LETS LOVE FULLFILL YOUR HEART

Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2011

BISAKAH BALI TETAP BERSOLEK

oleh Pram Daud pada 25 Agustus 2011 jam 21:46
Pram, tiak bisa kusembunyikan gelisahku. Sebagai putra Bali, nurani menjerit. Tak bisa kubanyangkan bagaimana wajah tanah yang turun-tremurun kuwarisi dari leluhurku. Kini pulau dewata tak elol lagi Pram. Ketaksuan tanah para dewa-dewi ini kini digugat dinamika zaman. Sampai kapankah kami bisa bertahan?
Manisnya kue pariwisata telah membutakan manusia Bali, Pram. Banyak diantara kami mabuk dan tenggelam dalam kenikmatan peribadi. Investor asing dengan ramahnya menawarkan guci-guci anggurnya. Manusia Bali pun terus meneguk dan menelannya mentah-mentah.
Wacana-wacana demi wacana terus bergulir dari meja diskusi yang satu ke meja lainnya. Pemerintah hanya bisa beretorika bahkan membuat kebijakan di luar akal sehat manusia Bali. Kebijakan pro rakyat pun hanya menjadi hitam di atas putih bukan realita. Rasa keadilan hanya jadi hayalan. Dan kini wacana hangat sedang bergulir Pram. Orang-orang berdasi itu berencana mempermak wajah Bali. Mereka menggelontorkan wacana yang tak sedap didengar maupun dipandang. Tahukah kau apa itu Pram?
Ah...Mungkin kau akan tertawa sinis mendengar jawabanku. Atau juga mungkin kau akan menangis mendengar kabar ini. Bisa jadi ini adalah berita duka bagi pulau serubi pura ini. Bisa jadi ini wacana ini adalah gerbang menuju runtuhnya taksu Bali. Tapi tunggu dulu! Kau kenapa Pram?? Oh iya aku tahu. Kau akan mencatat wacana ini dalam lika-liku sejarah perjalanan tanah Bali. Trima kasih Pram..
Baiklah aku akan mulai bercerita. Begini Pram.
Tak bisa kumengerti bagaimana jalan pikiran segelintir pejabat kita dan pemerintah pusat. Dengan dalih memecahkan masalah kepadatan pemukiman di Denpasar, mereka berniat membangun rumah susun Pram. Tahukah kau Pram, apa yang terjadi jika itu terealisasi? Wajah bali akan makin kumuh Pram. Wajah pulau yang digembar-gemborkan sebgai pulau surga ini akan borok dan bernanah.
Bali tak kan bisa bersolek lagi. Kecantikannya akan luntur bahkan berangsur-angsur akan tenggelam dalam kenistaan. Tak mungkin akan ada kumbang lagi yang menegok pulau yang kita kasihi ini. Tak mungkin lagi mentari tersenyum cerah pada kami. Semua akan berubah kelabu Pram. Para dewa pun mungkin akan enggan tinggal disini. Kau tahu kenapa? Karena rumah susun itu senyatanya tak sesuai dengan konsep budaya dan religius orang Bali. Bisakah kau bayangkan Pram, tak kan ada lagi vibrasi kesucian. Tak akan ada lagi konsep asta kosala-kosali yang begitu kita junjung. Tak akan ada lagi raung menyama braya yang hangat dan penuh keakraban. Manusia Bali akan dijejalkan pada sebuah bangunan yang senyata menyumpan jutaan masalah sosial budaya dan benih-benih perselisihan.
Tapi pemerintah berdalih, pembangunan ini demi keluarga miskin di Bali, demi menyiasati sempitnya lahan pemukiman dan mencegahan pemukiman kumuh. Ahh...bulshit. Kau tahu Pram, semiskin-miskinnya orang Bali, tidak mungkin tidak, mereka pasti punya sebidang tanah di kampungnya. Dan itu kurasa sudahlah cukup untuki menunjukkan esksistensi ke-Balian-nya. Lalu rumah susun ini untuk siapa?
Jikapun rumah susun itu dibangun , kuyakin Pram, manusia Bali yang begitu kental nuansa religiusnya akan enggan tinggal di rumah susun. Bahkan mungkin mereka akan jijik dan muntah mencium aromanya.
Asal kau tahu Pram, kami tak ingin Bali seperti Jakarta yang penuh rumah susun namun malah terkesan kumuh, semrawut dan menyimpan masalah sosial budaya teramat pelik. Kaulihat saja Pram, rumah susun di Jakarta mayoritas dihuni penduduk pendatang yang mengecap rejeki di ibukota. Keberadaan warga asli, warga Betawi, hanya riak kecil di tengah lautan. Akankah rumah susun itu hanya jadi sarangnya warga pendatang yang kian hari kian merongrong ke-Bali-an kita?
Lalu apa untungnya bagi kita? Warga pendatang yang makan nangka tapi kita yang kena getahnya. Ahh..mungkin pandanganku terlalu sempit Pram. Mungkin pula kau menghujatku tidak nasionalis, tidak tenggang rasa. Tapi asal kau tahu Pram, manusia Bali sudah cukup bertenggang rasa, hingga kami terus dirongrong dan diperdaya. Kini saatnya kami tegas dan teguh menjaga tanah kami, walau dengan kengototan sekalipun.
Bali ini milik kami bukan milik investor, bukan milik pendatang bukan pula milik pejabat. Bali ini warisan leluhur kami dan amat durhakalah jika kami berpaling darinya, tak melindunginya atau bahkan mengabaikannya. Semoga kau setuju Pram.

Minggu, 17 Juli 2011

Cinta bukan Derita

Orang bilang cinta itu bisa jadi sumber derita. Kalau begitu kenapa kita tetap tertarik pada cinta? In my opinion, Love is the greater blessing that ever God given to us. Tapi kita memang penuh kreasi bahkan cinta yang indah itupun kita inovasikan dengan kosakata muram, buram dan jahanam "Sumber Derita".
Atau mungkinkah kita hanya cari sensasi di hadapan sang kuasa agar lebih diperhatikan? Ataukah pernyataan itu sebagai bentuk kekecewaan karena mengalami derita dan kekecewaan dalam percintaan akibat cara mencintai yang salah?
Cinta itu tak pernah punya kosakata sumber duka atau siksa ataupun derita. Kita sendiri yang membuat cinta itu penuh hiasan kata-kata busuk dan berdebu itu. Hingga hidung kita harus menghirup tak sedapnya cinta. Mata kita terpaksa menatap betapa jelaknya cinta hingga kelilipan dan memaki “Fuck!!” Telinga kita merah dan seisi lelinga mencair akibat kata-kata  panas yang kita anggap keluar dari mulut manisnya cinta.
 Lalu akhirnya kita mengakumulasi aggapan-anggapan tadi dan  mengkambinghitamkan cinta sebagai sutradara dibalik layar atas derita kita. Cita itu sumber derita begitu kesimpulan akhir kita. I suggest you all even myself, “Stop make conclude like that. Lets see our relationship with love. Have we placed it in right way  and right person?” Lets think together.

Pramuna Daud