LETS LOVE FULLFILL YOUR HEART

Tampilkan postingan dengan label berita ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita ekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Nama Bali Sudah Menjual

Nama Bali Sudah Menjual
Indonesia Marketing Association Chapter Bali Manfaatkan Peluang
 
Dunia marketing di Bali tampaknya mendapat angin segar. Pasalnya, Kamis malam (12/5) bertempat di Puri Karang Renon,  Pengurus Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Bali periode 2011-2013 dilantik. Acara tersebut dihadiri Presiden of Indonesia Marketing Association I Nyoman G. Wiryanata,  dewan senat IMA Bali diantaranya Nengah Dasi Astawa, ABG Satria Narada, President IMA Bali Ketut Kartika Tanjana beserta pengurus baru lainnya.
Menurut Tanjana yang juga ketua Asosiasi Piranti Lunak dan Telematika Indonesia , dunia marketing di Bali sangat potensial untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan nama Bali yang sudah dikenal luas ditambah pesatnya perkembangan dunia pariwisata. “Sebenarnya dibanding daerah lain, Bali bisa menjadi ladang subur dunia marketing.  Nama Bali itu sendiri sudah menjual. Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan brand ini dengan pendekatan marketing dan pemanfaatan IT. Kami juga akan melakukan pelatihan pada pelaku UKM, pengusaha muda dan mahasiswa,” ungkap Tanjana seusai acara pengangkatan tersebut.
Pengetahuan dan penerapan ilmu marketing sebenarnya sangat penting dalam dunia usaha. Karena dengan itu, pengusaha bisa lebih kompetitif dan kreatif dalam produksi, pengemasan, distribusi dan pemasaran produk. Dengan pengetahuan marketing pengusaha atau wiraswasta bukan hanya berjualan barang atau jasa. Namun mereka bisa membuat pelanggan puas, loyal dan semakin mencintai produknya
Namun demikian masih banyak pengusaha Bali yang belum mengenal trik-trik marketing yang jitu terutama para  pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). “Melalui kepengurusan yang baru ini saya berharap IMA Bali bisa memberdayakan UKM dengan bekal teknik marketing yang mumpuni. Dengan demikian, diharapkan pelaku UKM bisa lebih kreatif dan inovati sehingga bisa bersaing,” ungkap Wiryanata.
 Selama ini upaya IMA mengenalkan marketing di Indonesia pada umumnya dan di Bali Khususnya, sudah sangat dinamis. IMA sudah menyelenggarakan program pendidkan The Certified Profesioanal Marketer (CPM). Selain itu, museum marketing dunia pertama sudah dibangun di Ubud Gianyar. “Melalui Museum Marketing 3.0 ini, kami berharap akses informasi tentang marketing semakin mudah sehingga pelaku usaha bisa mengenal, mempelajari dan menerapkan ilmu marketing. ”imbuh Wirayanata. Museum marketing ini direncanakan akan diresmikan pada 27 Mei mendatang dengan mendatangkan Bapak Marketing masa kini,Billy Porter. (wid)

Sering Rugi, Nelayan Jarang ke Laut

Sering Rugi, Nelayan Jarang ke Laut
Beberapa tahun yang lalu nelayan di pulau Serangan memang sejahtera namun kini kian memprihatinkan. Selasa (10/5) tampak hanya sedikit nelayan yang melaut. “Belakangan ini nelayan makin susah. Tidak jarang mereka merugi,” ujar Wayan Sabar (44).
Kapten kapal yang dulunya nelayan ini mengungkapkan, hal tersebut dikarenakan banyak pemodal besar yang menangkap ikan dengan menggunakan rumpon. Ini terbuat dari anyaman bambu yang dipasang di kedalaman 40 m lebih dengan jangkar. Kadang diisi janur atau slepan sehingga ditumbuhi lumut. Ikan-ikan kecil akan berkumpul di sana. Kemudian datanglah ikan-ikan besar dan predator. Lantas ikan-ikan itu akan ditangkap. Menurutnya, rumpon biasanya dipasang hingga selatan Lombok.
Kondisi itu makin diperparah dengan adanya penyelam yang mencari lobster sehingga ikan-ikan menyebar. Sarga ,nelayan asal Banjar Tengah saat ditemui sehabis melaut mengeluh. “Saya melaut dari pagi namun hanya dapat ikan Menengeh(Tongkol) 7 kg.” Harganya Rp. 15.000,00 per kilogram sedangkan biaya bensin mencapai Rp. 100.000,00.
Sebagian besar nelayan berasal dari Br. Kaje, Ponjok, Tengah, Kawan, Dukuh dan Kampung Bugis. Mereka tergabung dalam Perkumpulan Nelayan Mina Cipta Karya. Banyak diantaranya masih bertahan namun tidak sedikit nelayan muda banting stir ke pariwisata.
“Saya merasa kasihan dengan nelayan-nelayan di sini” imbuh Sabar yang sempat berlayar hingga ke Sumbawa, Lombok, Flores, Gili Sawangan, Labuan Bajo bahkan Makassar. “Saya sudah biasa dengan pahit getirnya kehidupan nelayan. Mati saja saya belum,” ujar Sabar menirukan ucapan  seorang nelayan. Memang kehidupan nelayan di Serangan perlu mendapat perhatian pemerintah.(wid)